::A N G G I::
D'Owner!

Navigation : Hover the image



Entries About Linkies Stuff

Annyeonghaseyo. Welcome to my wonderland. Replace this with your own profile.


Tagboard!




Credits!

Template: Nurul AtiQah
Edited By: Anggi
Others:   


Bersamaku



Bersamaku

Dirimu adalah  aku
Semakin hatimu beku
Tanpa sadar tancapkan paku
Terenyuh hatiku terkaku

Hidupku kian berliku
Luka yang terus menerus
Perih yang semakin menusuk
Tertahankan demi dirimu

Berdirilah disini selalu
Tetaplah tegar bersamaku
Lika liku hidup yang tak tentu
Semakin menambah mauku bersamamu






Menunggu


Menunggu

Putihmu mempesonaku
Dinginmu menyentuh rusukku
Lembut jatuh di tanganmu
Beku jemariku

Bersihmu menawanku
Tampak suci di mataku
Hamparan es membisukanku
Tidak mampu menggoyahkan hatiku

Aku menunggu
Jika harus sampai putih ini berlalu
Aku masih harus menantimu
Sampai terpenuhi janjimu dihatiku


Kasihmu Selalu


Kasihmu Selalu

Kala matahari senja turun
Lelah dirimu menyudahi semuanya
Masih tampak jelas senyummu untukku
Berusaha tetap membahagiakanku

Ditimang manja penuh sayang dulu
Hanya senyum yang menghiasi wajahmu
Teguran lembut yang mengalun
Juga perasaan bangga yang mengisi hati

Terimakasih sudah memberikan harimu untukku
Juga nyawa dan seluruhnya
Kutahu kasihmu tanpa pamrih
Tuhan lindungi selalu ayah dan ibuku


the real



Soekarno-Hatta International Airport  : Jakarta ,Indonesia

 ‘ Tante , aku berangkat dulu ya?’ kataku berpamitan pada tanteku ini
‘Hati-hati ya. Patuhlah pada abangmu. Jangan nakal’ pesannya
Aku hanya tersenyum samar .
‘Terimakasih tante, sudah merawatku sampai aku seperti ini’ kupeluk tanteku lagi
‘Sudah tugas tante. Kau harus lebih mandiri’ katanya sambil menepuk pundakku

‘Ladies and gentleman, plane with number G7888 boing 3 will be flying to singapore right now’ inilah saatnya. Aku meninggalkan tanah kelahiranku. Keluargaku. Semuanya. Kutarik koperku menuju gate penerbangan luar negeri. Aku menoleh pada tanteku sebentar, tersenyum lagi. Aku bisa melihat raut wajahnya yang sedikit khawatir melepasku. Tapi masih tampak senyuman manis diwajahnya. Aku melambaikan tangan padanya. Tentu saja aku akan sangat merindukannya

………………………………………………………………………………………………

Changi International Airport : Singapore
‘Ladies and gentleman we’ll take off in changi international airport singapore , the different time is one hour more faster than jakarta time . now in singapore is 10:00 AM’
Akhirnya aku tiba juga negara macam asia ini. Penerbangan 2 jam cukup membuatku lelah. Padahal dipesawat yang kulakukan hanya tidur dan memainkan iPadku. Aku harus segera menghubungi abangku nanti.
Pesawat sudah mendarat dengan lancar. Dengan langkah segera aku menuju ke arah bagian kantor imigrasi. Setelah semua selesai  aku menuju tempat penjemputan. Hah! Kenapa tidak ada yang membawa namaku disana
Tut…Tut…Tu…. Abangku tidak segera mengangkat telpon
Sekali lagi. Tut…Tut…Tut
‘Ya Halo’ kata suara diseberang sana
‘Yah abang aku sudah ditempat penjemputan! Kau dimana?’ kataku kesal
‘Aduh sabar maaf tadi abang lupa. Sudah hampir sampai kok sabar ya’ katanya lagi
‘Yasudah cepat ya’ Klik. Kututup telpon
Abangku tetap saja tidak berubah. Masih juga suka terlambat. Padahal dia sudah hidup di negara ini selama 5 tahun. Apa temannya tidak terganggu dengan kebiasaan abangku yang suka terlambat ini? Huh
Aku duduk dibangku yang tersedia. Mendengarkan musik dari iPod di sakuku. Kuambil sebuah album ditasku. Album foto semasa aku SMA dulu. Dari jaman cupu sampai kelulusan kemarin. Aku tersenyum sendiri melihat fotoku dengan muka penuh tepung. Saat itu aku sedang berulang tahun. Kubalik halaman selanjutnya. Aku tersenyum lagi melihat sosok laki-laki berseragam SMA lengkap dibaliknya.
‘Bian, ayo!’ tiba-tiba seseorang menepukku. Reflek aku menoleh
‘Abang apaan sih! Kaget tau!’ kataku setengah membentaknya
‘Hehehe. Let’s go’ katanya lagi
‘Halah! Sok inggris’ balasku , dibalas lagi dengan senyum oleh abangku
Aku memasuki mobil. Dan mobil meluncur dengan bebas di jalanan yang luas. Aku berdecak kagum dengan lingkungan di sepanjang jalan. Tampak sangat teratur dan bersih. Kabel listrik pun terletak di bawah tanah. Ah kapan Jakarta menjadi sepert ini? Tiba-tiba aku merasa bahwa Indonesia memang perlu, sangat perlu untuk dibenahi.

……………………………………………………………………………………………..

Kami sudah tiba di apartemen milik abangku. Disini abangku bekerja sebagai pegawai cafe secara part time sambil kuliah. Karena kuliahnya sudah lulus sekarang abangku ingin membiayai aku kuliah di singapura. Aku baru saja lulus dari sebuah SMA dijakarta dan langsung diajak abangku untuk kuliah disini.
Aku menuju kamarku dilantai dua. Perjalanan yang cukup melelahkan pikirku. Kupandangi jalan dan bangunan dari atas kamarku. Penuh dengan gedung pencakar langit dan banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang. Tapi disini teratur. Tidak seperti Indonesia pikirku.
Kubongkar koperku dan kumasukkan baju dan barang-barangku ke lemari. Kutata dengan rapi frame fotoku bersama tante juga beberapa foto masa SMA ku saat dijakarta. Kupandangi sebentar. Baru dalam hitungan jam aku meninggalkan Indonesia aku sudah merindukan mereka. Aku mengambil foto paling bawah dikoperku. Foto bersama seseorang yang pasti akan sangat kurindukan selama aku disini.


Flashback
Kami berdua sedang melihat langit dan awan diatas, rebahan beralaskan rumput hijau di sebuah taman kecil favorit kami.
‘ Nggak terasa banget  besok kita udah wisuda’ katanya sambil terus menatap langit
‘ Yah! Kita nggak sesekolah lagi’ kataku dengan berat hati
‘ Kan kita bisa kuliah ditempat yang sama’ balasnya sambil menatapku
Aku terhenyak.  Aku tidak berani menatap matanya. Terlalu takut. Apa memang sudah saatnya untuk mengatakannya?
‘ Ren? ‘ panggilku ragu-ragu
‘Ya?’ katanya , menatapku lagi
‘Kamu jangan marah ya? Aku mau bilang sesuatu’ kataku takut-takut
‘Kenapa sih? Nggak kok. Kan kita udah sahabatan dari SD’ katanya menatapku penasaran
‘Aku nggak akan kuliah disini’ kataku pelan, aku menghela nafas panjang
‘Maksudmu?’ kejarnya lagi
‘Aku ikut abangku, kamu pasti tau maksudku’ kataku pasrah
Rendy tidak menjawab. Aku diam. Suara daun yang terkena angin sepoi-sepoi bahkan bisa terdengar. Aku tetap diam , tidak berani menatap matanya. Kami tetap diam. Lalu kudengar hela nafasnya yang berat.
‘Singapura?’ tanyanya pelan
‘Iya, maaf aku baru memberitahumu. Aku takut dah hmm…tidak bisa’ kataku lagi
‘Kapan? Berapa lama?’
‘Aku berangkat minggu depan. Dan paling cepat 3 tahun, tapi mungkin 4 tahun’ kataku lemas
‘Baiklah. Akan kutunggu’ katanya sambil tersenyum samar
Aku tau rendy kecewa. Sangat kecewa mungkin. Salahku juga kenapa aku tidak mengatakannya dulu-dulu. Aku terlalu takut berpisah dengannya. Kami selalu bersama sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Rasanya aneh pasti tidak ada rendy disana nanti. Airmataku sudah menggenang dipelupuk mata.
‘ Ya kenapa menangis? Aku disini, jika nanti kau kembali aku juga masih disini’ katanya sambil memelukku
Airmataku jatuh semakin deras. Aku balas memeluknya. Aku masih ingin disini, menikmati waktu bersama rendy. Bersama teman-temanku yang lain. Tetapi aku harus berani mengambil keputusan yang tepat.
‘Sering-seringlah mengirim kabar nanti’ kata rendy lagi.

………………………………………………………………………………………………

Tak terasa aku sudah satu setengah tahun kuliah disini, di singapura. Cukup menyenangkan kupikir. Pada awalnya memang agak sulit beradaptasi disini. Kendala bahasa dan budaya memang mempengaruhi. Aku sedikit kesulitan berkomikasi disini karena pada awalnya aku tidak terlalu mahir berbicara bahasa inggris. Apalagi mengdengarkan intonasi mereka.
Tapi untuk saat ini aku sudah tidak terlalu kesulitan. Disinipun aku mengambil jurusan sastra inggris, jadi aku sedikit terbantu ketika berkomunikasi. Di Singapore University ini aku juga bertemu beberapa teman asal Indonesia. Juga banyak teman dari negara asia yang lain.
Pulang kuliah aku bergegas menuju kamarku. Hari masih siang , aku memang kuliah pagi dan tentu saja abangku belum pulang. Dia memutuskan untuk kerja full time di café itu sebagai tambahan biaya, dan kupikir gajinya memang cukup besar.
Aku dengan tak sabar segera membuka laptop, dan membuka email. Tapi……
‘ Hm kenapa masih tidak ada balasan?’ gerutuku menahan kesal
HAH! Rendy kau kemana?! Sudah sekitar 3 bulan dia tidak membalas emailku, pesan facebook, juga mention twitter. Nomernya juga tiba-tiba saja tidak aktif. Aku kesal! Kesal sekali. Bagaimana jika dia sudah mempunyai pendamping? Ahhhh semakin membuat aku lemas. Yah… cepatlah balas emailku , aku merindukanmu.

……………………………………………………………………………………………....

Aku baru saja keluar dari kelas sastra inggris. Entahlah tiba-tiba saja aku ingin berjalan-jalan mengitari sipngapore university. Angin sepoi-sepoi membelai anak rambutku pelan , aku berjalan santai sambil sedikit melamun. Secara spontan aku teringan pada Rendy. Sedang apa dia? Bagaimana kabar bibi disana? Apakah dia sudah membalas emailku? Lamunanku terhenti ketika seseorang memanggil namaku.
‘ Raina!’ seru Selly diseberang sana. Aku melambaikan tangan padanya
‘ Hei, ada anak baru dari Indonesia tuh’ katanya padaku
‘ Ohya? Dari mana?’ jawabku penasaran
‘ Jakarta. Sama kan  kaya kamu?’ katanya lagi
‘ Iya! Wah jadi pengen tau’ sahutku antusias
‘ Cowok sist, lumayan sih kataku. Btw aku ke kelas dulu yah!’ katanya sambil berlalu
Aku hanya bisa berdecak dan menggelengkan kepala melihat kelakuan temanku yang satu itu. Sejujurnya menurutku cowok europe lebih menarik daripada asian. Tapi aku juga jadi penasaran siapa orangnya.
Aku memutuskan untuk pulang saja naik metro. Terik sinar matahari semakin menyengat semakin siang. Aku berjalan keluar kampus menuju tempat pemberhentian metro. Tiba-tiba saja ada seseorang penepuk pundakku. Aku menoleh dan itu……. Mengejutkan!
‘ Hai Raina!’ sapanya dengan senyum hangat seperti biasa
Aku diam saja. Sekujur tubuh rasanya beku. Apakah aku berhalusinasi. Hei Raina sadar! Ini singapura, bukan Jakarta. Tapi ini seperti nyata. Bukan mimpi. Otomatis aku mencubit lenganku. Sakit…… benarkah bukan mimpi?
‘ R….Re….Rendy?’ aku gagap mendadak-_-
‘ Hei! Kenapa terkejut seperti itu?’ katanya sambil melambaikan tangan didepan mataku
‘ Hah?! Beneran?!’ kataku masih tak percaya
‘ Yah! Kau sudah lupa? Ini aku. Rendy Maulana’ katanya polos

……………………………………………………………………………………………..

‘ Yah! Kau sudah lupa? Ini aku. Rendy Maulana’
Aku masih bingung. Tiba-tiba saja rasa rindu itu muncul kepermukaan dengan hebatnya. Mataku berkaca-kaca. Otomatis aku memeluknya. Dasar bodoh! Mana mungkin aku lupa. Dia tampak membalas pelukanku. Aku memeluknya lebih erat. Ini memang Rendy. Wangi parfumnya masih terekam diotakku. Begitu pula pelukanya. Aku masih menangis. Dasar bodoh! Rutukku dalam hati. Dia menatap mataku , lalu dihapusnya airmata yang tadi deras mengalir.
‘ Jangan menangis. Aku disini kan? Mungkin aku ingkar janjiku untuk menunggumu. Tapi aku sudah mengejarmu bukan?’ katanya mantap
‘ And the last , would you be mine? Forever?’
Katanya tiba-tiba, tidak mengalihkan pandanga matanya dari mataku. Tampak ketulusan yang memancar disana. Aku terhenyak sesaat. Aku terlalu bahagia, lidahku kelu rasanya. Aku memeluknya lagi lebih erat. Dan membisikkan kata
‘ Yes, I will’