Soekarno-Hatta International
Airport : Jakarta
,Indonesia
‘ Tante , aku berangkat dulu ya?’ kataku
berpamitan pada tanteku ini
‘Hati-hati ya. Patuhlah
pada abangmu. Jangan nakal’ pesannya
Aku hanya tersenyum
samar .
‘Terimakasih tante,
sudah merawatku sampai aku seperti ini’ kupeluk tanteku lagi
‘Sudah tugas tante. Kau
harus lebih mandiri’ katanya sambil menepuk pundakku
‘Ladies and gentleman, plane
with number G7888 boing 3 will be flying to singapore right now’ inilah saatnya. Aku
meninggalkan tanah kelahiranku. Keluargaku. Semuanya. Kutarik koperku menuju
gate penerbangan luar negeri. Aku menoleh pada tanteku sebentar, tersenyum
lagi. Aku bisa melihat raut wajahnya yang sedikit khawatir melepasku. Tapi
masih tampak senyuman manis diwajahnya. Aku melambaikan tangan padanya. Tentu
saja aku akan sangat merindukannya
………………………………………………………………………………………………
Changi International
Airport : Singapore
‘Ladies and gentleman
we’ll take off in changi international airport singapore , the different time
is one hour more faster than jakarta
time . now in singapore
is 10:00 AM’
Akhirnya aku tiba juga
negara macam asia ini. Penerbangan 2 jam cukup
membuatku lelah. Padahal dipesawat yang kulakukan hanya tidur dan memainkan
iPadku. Aku harus segera menghubungi abangku nanti.
Pesawat sudah mendarat
dengan lancar. Dengan langkah segera aku menuju ke arah bagian kantor imigrasi.
Setelah semua selesai aku menuju tempat
penjemputan. Hah! Kenapa tidak ada yang membawa namaku disana
Tut…Tut…Tu…. Abangku
tidak segera mengangkat telpon
Sekali lagi. Tut…Tut…Tut
‘Ya Halo’ kata suara
diseberang sana
‘Yah abang aku sudah
ditempat penjemputan! Kau dimana?’ kataku kesal
‘Aduh sabar maaf tadi
abang lupa. Sudah hampir sampai kok sabar ya’ katanya lagi
‘Yasudah cepat ya’ Klik.
Kututup telpon
Abangku tetap saja tidak
berubah. Masih juga suka terlambat. Padahal dia sudah hidup di negara ini
selama 5 tahun. Apa temannya tidak terganggu dengan kebiasaan abangku yang suka
terlambat ini? Huh
Aku duduk dibangku yang
tersedia. Mendengarkan musik dari iPod di sakuku. Kuambil sebuah album ditasku.
Album foto semasa aku SMA dulu. Dari jaman cupu sampai kelulusan kemarin. Aku
tersenyum sendiri melihat fotoku dengan muka penuh tepung. Saat itu aku sedang
berulang tahun. Kubalik halaman selanjutnya. Aku tersenyum lagi melihat sosok
laki-laki berseragam SMA lengkap dibaliknya.
‘Bian, ayo!’ tiba-tiba
seseorang menepukku. Reflek aku menoleh
‘Abang apaan sih! Kaget tau!’
kataku setengah membentaknya
‘Hehehe. Let’s go’ katanya lagi
‘Halah! Sok inggris’ balasku , dibalas
lagi dengan senyum oleh abangku
Aku memasuki mobil. Dan mobil
meluncur dengan bebas di jalanan yang luas. Aku berdecak kagum dengan
lingkungan di sepanjang jalan. Tampak sangat teratur dan bersih. Kabel listrik
pun terletak di bawah tanah. Ah kapan Jakarta menjadi sepert ini? Tiba-tiba aku
merasa bahwa Indonesia memang perlu, sangat perlu untuk dibenahi.
……………………………………………………………………………………………..
Kami sudah tiba di apartemen
milik abangku. Disini abangku bekerja sebagai pegawai cafe secara part time sambil
kuliah. Karena kuliahnya sudah lulus sekarang abangku ingin membiayai aku
kuliah di singapura. Aku baru saja lulus dari sebuah SMA dijakarta dan langsung
diajak abangku untuk kuliah disini.
Aku menuju kamarku dilantai
dua. Perjalanan yang cukup melelahkan pikirku. Kupandangi jalan dan bangunan
dari atas kamarku. Penuh dengan gedung pencakar langit dan banyaknya kendaraan
yang berlalu-lalang. Tapi disini teratur. Tidak seperti Indonesia pikirku.
Kubongkar koperku dan
kumasukkan baju dan barang-barangku ke lemari. Kutata dengan rapi frame fotoku
bersama tante juga beberapa foto masa SMA ku saat dijakarta. Kupandangi
sebentar. Baru dalam hitungan jam aku meninggalkan Indonesia aku sudah
merindukan mereka. Aku mengambil foto paling bawah dikoperku. Foto bersama
seseorang yang pasti akan sangat kurindukan selama aku disini.
Flashback
Kami berdua sedang melihat
langit dan awan diatas, rebahan beralaskan rumput hijau di sebuah taman kecil
favorit kami.
‘ Nggak terasa banget besok kita udah wisuda’ katanya sambil terus
menatap langit
‘ Yah! Kita nggak sesekolah
lagi’ kataku dengan berat hati
‘ Kan kita bisa kuliah ditempat
yang sama’ balasnya sambil menatapku
Aku terhenyak. Aku tidak berani menatap matanya. Terlalu
takut. Apa memang sudah saatnya untuk mengatakannya?
‘ Ren? ‘ panggilku ragu-ragu
‘Ya?’ katanya , menatapku lagi
‘Kamu jangan marah ya? Aku mau
bilang sesuatu’ kataku takut-takut
‘Kenapa sih? Nggak kok. Kan
kita udah sahabatan dari SD’ katanya menatapku penasaran
‘Aku nggak akan kuliah disini’
kataku pelan, aku menghela nafas panjang
‘Maksudmu?’ kejarnya lagi
‘Aku ikut abangku, kamu pasti
tau maksudku’ kataku pasrah
Rendy tidak menjawab. Aku diam.
Suara daun yang terkena angin sepoi-sepoi bahkan bisa terdengar. Aku tetap diam
, tidak berani menatap matanya. Kami tetap diam. Lalu kudengar hela nafasnya
yang berat.
‘Singapura?’ tanyanya pelan
‘Iya, maaf aku baru
memberitahumu. Aku takut dah hmm…tidak bisa’ kataku lagi
‘Kapan? Berapa lama?’
‘Aku berangkat minggu depan.
Dan paling cepat 3 tahun, tapi mungkin 4 tahun’ kataku lemas
‘Baiklah. Akan kutunggu’
katanya sambil tersenyum samar
Aku tau rendy kecewa. Sangat
kecewa mungkin. Salahku juga kenapa aku tidak mengatakannya dulu-dulu. Aku
terlalu takut berpisah dengannya. Kami selalu bersama sejak kami masih duduk di
bangku sekolah dasar. Rasanya aneh pasti tidak ada rendy disana nanti. Airmataku
sudah menggenang dipelupuk mata.
‘ Ya kenapa menangis? Aku
disini, jika nanti kau kembali aku juga masih disini’ katanya sambil memelukku
Airmataku jatuh semakin deras.
Aku balas memeluknya. Aku masih ingin disini, menikmati waktu bersama rendy.
Bersama teman-temanku yang lain. Tetapi aku harus berani mengambil keputusan
yang tepat.
‘Sering-seringlah mengirim
kabar nanti’ kata rendy lagi.
………………………………………………………………………………………………
Tak terasa aku sudah satu
setengah tahun kuliah disini, di singapura. Cukup menyenangkan kupikir. Pada
awalnya memang agak sulit beradaptasi disini. Kendala bahasa dan budaya memang
mempengaruhi. Aku sedikit kesulitan berkomikasi disini karena pada awalnya aku
tidak terlalu mahir berbicara bahasa inggris. Apalagi mengdengarkan intonasi
mereka.
Tapi untuk saat ini aku sudah
tidak terlalu kesulitan. Disinipun aku mengambil jurusan sastra inggris, jadi
aku sedikit terbantu ketika berkomunikasi. Di Singapore University ini aku juga
bertemu beberapa teman asal Indonesia. Juga banyak teman dari negara asia yang
lain.
Pulang kuliah aku bergegas
menuju kamarku. Hari masih siang , aku memang kuliah pagi dan tentu saja
abangku belum pulang. Dia memutuskan untuk kerja full time di café itu sebagai
tambahan biaya, dan kupikir gajinya memang cukup besar.
Aku dengan tak sabar segera
membuka laptop, dan membuka email. Tapi……
‘ Hm kenapa masih tidak ada
balasan?’ gerutuku menahan kesal
HAH! Rendy kau kemana?! Sudah
sekitar 3 bulan dia tidak membalas emailku, pesan facebook, juga mention
twitter. Nomernya juga tiba-tiba saja tidak aktif. Aku kesal! Kesal sekali.
Bagaimana jika dia sudah mempunyai pendamping? Ahhhh semakin membuat aku lemas.
Yah… cepatlah balas emailku , aku merindukanmu.
……………………………………………………………………………………………....
Aku baru saja keluar dari kelas
sastra inggris. Entahlah tiba-tiba saja aku ingin berjalan-jalan mengitari
sipngapore university. Angin sepoi-sepoi membelai anak rambutku pelan , aku
berjalan santai sambil sedikit melamun. Secara spontan aku teringan pada Rendy.
Sedang apa dia? Bagaimana kabar bibi disana? Apakah dia sudah membalas emailku?
Lamunanku terhenti ketika seseorang memanggil namaku.
‘ Raina!’ seru Selly diseberang
sana. Aku melambaikan tangan padanya
‘ Hei, ada anak baru dari
Indonesia tuh’ katanya padaku
‘ Ohya? Dari mana?’ jawabku
penasaran
‘ Jakarta. Sama kan kaya kamu?’ katanya lagi
‘ Iya! Wah jadi pengen tau’
sahutku antusias
‘ Cowok sist, lumayan sih
kataku. Btw aku ke kelas dulu yah!’ katanya sambil berlalu
Aku hanya bisa berdecak dan
menggelengkan kepala melihat kelakuan temanku yang satu itu. Sejujurnya
menurutku cowok europe lebih menarik daripada asian. Tapi aku juga jadi
penasaran siapa orangnya.
Aku memutuskan untuk pulang saja
naik metro. Terik sinar matahari semakin menyengat semakin siang. Aku berjalan
keluar kampus menuju tempat pemberhentian metro. Tiba-tiba saja ada seseorang
penepuk pundakku. Aku menoleh dan itu……. Mengejutkan!
‘ Hai Raina!’ sapanya dengan
senyum hangat seperti biasa
Aku diam saja. Sekujur tubuh
rasanya beku. Apakah aku berhalusinasi. Hei Raina sadar! Ini singapura, bukan
Jakarta. Tapi ini seperti nyata. Bukan mimpi. Otomatis aku mencubit lenganku.
Sakit…… benarkah bukan mimpi?
‘ R….Re….Rendy?’ aku gagap
mendadak-_-
‘ Hei! Kenapa terkejut seperti
itu?’ katanya sambil melambaikan tangan didepan mataku
‘ Hah?! Beneran?!’ kataku masih
tak percaya
‘ Yah! Kau sudah lupa? Ini aku.
Rendy Maulana’ katanya polos
……………………………………………………………………………………………..
‘ Yah! Kau sudah lupa? Ini aku.
Rendy Maulana’
Aku masih bingung. Tiba-tiba
saja rasa rindu itu muncul kepermukaan dengan hebatnya. Mataku berkaca-kaca.
Otomatis aku memeluknya. Dasar bodoh! Mana mungkin aku lupa. Dia tampak
membalas pelukanku. Aku memeluknya lebih erat. Ini memang Rendy. Wangi
parfumnya masih terekam diotakku. Begitu pula pelukanya. Aku masih menangis.
Dasar bodoh! Rutukku dalam hati. Dia menatap mataku , lalu dihapusnya airmata
yang tadi deras mengalir.
‘ Jangan menangis. Aku
disini kan? Mungkin aku ingkar janjiku untuk menunggumu. Tapi aku sudah
mengejarmu bukan?’ katanya mantap
‘ And the last , would
you be mine? Forever?’
Katanya tiba-tiba, tidak
mengalihkan pandanga matanya dari mataku. Tampak ketulusan yang memancar
disana. Aku terhenyak sesaat. Aku terlalu bahagia, lidahku kelu rasanya. Aku
memeluknya lagi lebih erat. Dan membisikkan kata
‘ Yes, I will’