
|
D'Owner! ![]() Annyeonghaseyo. Welcome to my wonderland. Replace this with your own profile. Tagboard! Credits!
| violinst
‘ Cecil kemarilah…. Mari kita bermain
biola ‘
Lamunanku buyar ketikta ibu mengetuk
pintu kamarku. Kuhapus sisa airmata yang masih ada disekitar mata. Segera aku
melompat dari kasur dan membuka pintu kamar.
‘Ibu masuk ya?’ kata ibu didepan pintu
‘Hmm…. ‘ kataku enggan
Kami berdua duduk diatas kasur berseprai
biru muda. Aku diam. Menuggu ibu bicara. Tampak beliau sedang sibuk mengatur
kata. Ibu berkata sambil menghela nafas
‘Cecil, ibu tau sekali kamu ingin menjadi
pemain biola. Ibu juga tahu kamu sangat berbakat. Tapi mengertilah ayah dan ibu
tidak bisa membiarkanmu pergi jauh’
‘Jika aku disini aku tidak akan bisa
mengembangkan bakatku!’ kataku putus asa
‘ Jakarta itu jauh. Belum kehidupanmu
nanti disana bagaimana. Kamu hanya seorang diri. Terlalu berbahaya untukmu’
kata ibu khawatir
‘Terserah ayah dan ibu bilang apa aku
tetap ingin pergi ke Jakarta!’ kataku melangkah keluar kamar dengan menahan
dongkol setengah mati.
…………………………………………………………………………………………………..
Sore hari seperti ini memang menyenangkan
sendirian duduk dipekarangan belakang rumah. Semilir angin sepoi-sepoi juga
suara cicitan burung disekitarku. Suasana tenang dan damai sedikit mengalihkan
pikiranku dari pertengkaran dengan ibu tadi.
Aku duduk diam, mengamati sekitar
pekarangan belakang. Pohon yang rindang dengan berbagai macam jenis bunga-bunga
yang indah. Sejuk udara disekitarnya. Kuhirup perlahan. Jika aku sudah tidak
disini tentu saja aku akan merindukan suasana seperti ini. Tenang nan
menghanyutkan
Aku asyik dalam lamunanku. Masih terekam
jelas diotakku ketika pertama kali kakek mengenalkanku pada alat musik itu,
biola. Awalnya aku tak acuh , tetapi rasa penasaranku tergelitik ketika melihat
kakek memainkan dan menggesek perlahan senar diatasnya. Secara otomatis akan
menimbulkan suatu alunan musik yang indah. Saat itu usiaku baru 5-6 tahun
Aku mulai merengek-rengek pada kakekku
agar mau mengajariku bermain biola. Pertama kakekku mengajari pentatonik yaitu
nenetik senar biola. Aku baru tahu bahwa langkah pertama biola itu dipetik
bukan digesek. Dan aku ingin biola yang digesek bukan dipetik
Pada akhirnya aku diajari cara menggesek
dan memainkan biola. Senarnya yang keras membuat jemariku kesakitan, dan
sedikit mengapal. Bukan hanya itu, tekhiniknya juga yang membuatku malas
mendalaminya lagi. Apalagi untuk anak usia 7 tahun seperti aku waktu itu
Kakek terus membujukku. Hingga aku serius
belajar dan berlatih. Pada awalnya memang susah mendisiplinkan diri untuk
berlatih. Aku masih ingin bermain bersama teman-temanku yang lain. Kadang aku
kabur atau sengaja pulang telat agar tidak ada waktu untuk latihan
Seiring berjalannya waktu aku semakin
mahir dalam memainkan biola. Aku juga sudag jarang kabur latihan. Sepulang
sekolah aku selalu kerumah kakek dulu untuk kembali berlatih. Perlahan namun
pasti aku mulai mencintai alat musik ini. Melodi indah keluar dari gesekan
antara bow dengan senar biolaku. Aku larut dalam permainan
Aku mencintai biola. Sampai saat ini.
Bahkan setelah kakek meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu. Aku terus
berlatih, mengingat pesan kakek. Aku tetap memainkan berbagai alunan musik
dengan biola tua kakek. Bagiku memainkan biola sama saja dengan mengenang
kakek. Mengingatkanku betapa arif dan bijaksananya beliau. Juga kesabarannya
saat mengajariku bermain biola. Kakek tidak pernah marah meskipun aku kabur
atau malas latihan
Ah…… Aku sangat merindukan sosoknya itu.
Yang selalu tersenyum meilhatku sedang putus asa karena salah dalam memainkan
nada. Aku merindukan kakek. Sangat……
Seandainya kakek masih hidup pasti beliau
senang sekali mendengar cucunya diterima disalah satu sekolah musik terkenal di
Jakarta. Dengan susah payah dan usaha yang cukup keras juga latihan yang tidak
main-main aku berhasil lolos tes masuk sekolah itu dengan hasil yang bisa
dibilang cukup memuaskan .
Sayang sekali kebahagiaanku itu hanya
bertahan sebentar. Setelah kubicarakan dengan ayah dan ibu, dengan segala
konsekuensinya untuk tinggal asrama disana. Ayah ibu tidak setuju jika aku
pergi. Mereka khawatir bagaimana hidupku disana.
Seandainya kakek masih hidup kakek pasti
akan memaksa ayah dan ibu agar mengizinkanku sekolah disana. Sungguh aku sangat
ingin. Mengembangkan kemampuanku, bakat dan minat, mendapat teman dan suasana
yang berbeda dengan disini tentunya. Dan untuk melatih diriku menjadi lebih
tanggung jawab dan mandiri. Menyenangkan sekali tentunya. Setelah aku lulus
dari sana aku bisa menjadi violinist . menyenangkan bukan jika pekerjaan
merupakan hobi?
Bagiku biola sekarang bukan hanya sekedar
hobi lagi tetapi lebih dari itu. Mendengar alunan nada dari biola mampu
membuatku terhanyut. Menghibur diriku dari berbagai gundah yang melanda hati.
Senang dan sedih selalu kutumpahkan perasaanku pada alat musik ini
Kuhela nafas panjang. Rasanya pening
sekali. Bagaimana caranya agar ayah dan ibu mengizinkanku sekolah disana? Hffff
………………………………………………………………………………………………………….
‘ Cecil!’ seseorang memanggilku dengan
keras, aku menoleh
‘ Hei’ balasku dengan senyum tipis
‘Wah kamu diterima disekolah musik
itu,selamat ya!’ kata Zizi heboh
‘Ah biasa saja, btw thanks lho’ kataku
masih dengan ekspresi datar
‘Lho kok lemes sih? Bukannya harusnya
seneng?’ tanya Zizi bingung
Aku menceritakan semua yang terjadi
kemarin pada Zizi. Tentang keinginanku masuk disana, larangan ayah dan ibu,
usahaku untuk lolos, dan bagaimana caranya agar ayah dan ibu mau mengizinkanku
sekolah disana.
Zizi yang sudah menjadi temanku sejak
kelas 1 SMP mendengarkan ceritaku dengan seksama. Dia sudah paham tentang sifat
orangtuaku yang jika sudah memutuskan sesuatu pasti tidak dapat diganggu gugat.
Tetapi sepertinya Zizi memiliki sebuah ide. Hm kupikir pantas dicoba.
………………………………………………………………………………………………………
Kami berdua mendatangi ruangan guru seni
kami saat bel pulang sekolah berbunyi
‘Selamat sore pak’ ucap kami bebarengan
‘Ya selamat sore. Oh Cecil dan Zizi? Ada
perlukah?’ tanyanya
‘Kami ingin membicarakan sesuatu pak’
Ucap Zizi
‘Tentang? Oh iya Zizi selamat ya kamu
diterima disekolah musik itu? Pasti kamu senang sekali kan? Selamat ya’ Kata
pak Heru bangga
‘Terimakasih pak, tapi itulah yang ingin
kami bicarakan. Dan kami membutuhkan bantuan bapak’ kataku pelan
………………………………………………………………………………………………………..
Hari ini aku memberanikan diri kembali
meminta izin ayah dan ibu agar aku diberbolehkan sekolah di sekolah musik itu.
Kebetulan hari ini ayah sedang libur. Kulihat siang ini beliau sedang
terkantuk-kantuk didepan ruang TV. Kuberanikan diri mendekati ayah.
‘Yah’ gumamku pelan
‘Ya?’ katanya sambil segera bangun
‘Aku tetap ingin sekolah di Jakarta yah’
kataku memelas
‘Kamu belum mandiri’ kata ayah lagi
‘Oleh karena itu aku ingin mandiri’
balasku lagi
‘Ayah dan ibu tidak akan mengizinkan’
katanya tegas, tanpa bisa dibantah
Tiba-tiba pintu depan rumah diketuk.
Dengan sedikit tergopoh-gopoh ibu membukakan pintu. Sedang ayah segera beranjak
dari ruang TV menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata pak
Heru, yang ingin berbicara dengan ayah ibu
Pak Heru mencoba membujuk mereka agar mau
mengizinkanku bersekolah di Jakarta. Ayah tetap keras kepala rupanya, dengan
alasan bagaimana hidupku disana nanti, tentang aku yang belum mandiri. Tapi
disini Pak Heru menjelaskan bahwa disana siswanya pasti akan diperhatikan penuh
oleh pihak sekolah. Mulai dari buku, makanan, pakaian, semua sudah diatur
Tanpa didugas, setelah mendengarkan semua
itu. Juga akibat bujukan Pak Heru tentunya. Akhirnya ayahku dan ibuku
mengizinkan. Akhirnya……
………………………………………………………………………………………………………
Sekarang aku sudah menjadi siswi dari
sebuah sekolah musik terkemuka di Jakarta. Menyenangkan sekali rasanya! Banyak
pengalaman baru yang aku dapatkan. Juga bebagai ilmu baru dan teknik bermain
biola yang tidak pernah aku dapatkan.
Tiap tahun para orangtua diundang untuk melihat penampilan anak mereka.
Aku sedang dipanggung. Bersama biolaku
yang cantik. Kumainkan nada-nada yang indah. Kulihat ayah dan ibu duduk
dibarisan depan. Menambah semangatku disini. Terdengar tepukan meriah dari
audiens. Dari sini aku bisa melihat senyum bangga dari orangtuaku. Akhirnya……
|